Di tengah perjalanan menuju rumah Mac Brief yang cukep panjang dan berliku, Nail yang memiliki kemampuan berpikir yang lebih nampaknya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh yang telah terjadi dengan mereka sekarang.
"Tob, apa benar ya jalan ke rumah Mac Brief ke arah sini.?? Kurasa sepertinya kita tersesat karena perasaanku mengatakan bahwa aku belum pernah lewat sini." kata Nail khawatir.
"Ah yang bener kamu Nail.?? Kita sudah jauh-jauh kesini hanya untuk tersesat.!? Terus bagaimana kalau begitu sekarang.?? Padahal kukira kamu itu hapal betul jalannya dengan baik." Kata Tobi dengan sangat kecewa karena kata-kata Nail barusan.
Memang sepanjang jalan yang mereka lewati tadi adalah hutan yang sangat lebat sepanjang batas desa, tapi setelah jauh berjalan mereka tidak juga menemukan jalan setapak yang arahnya menuju ke desa.Akhirnya merekapun menjadi khawatir kalau ternyata mereka tersesat dan berada lebih jauh lagi dari desa.
"Ah bagaimana ini Nail.?? Kita tersesat gara-gara kamu yang tidak hapal jalan dengan begitu baik, kamu selalu bilang aku bodoh tapi kenyataannya kamu sendiri tidak bisa mengingat jalan pulang ke desa, bagaimana sih.??" Tobi menggerutu dengan wajah kesal tapi tetap saja kelihatan bodoh.
"Jangan menyalahkan aku juga sepenuhnya dong Tob.!! Lagipula aku baru sekali saja membuat kesalahan, tidak sepertimu kamu yang sudah berkali-kali membuat kesalahan gara-gara kebodohan dan rasa penasaranmu yang terlalu besar itu.!! Huh dasar bisanya menyalahkan orang melulu." Kata Nail yang juga ikut-ikutan kesal.
Akhirnya mereka pun berjalan terus ke arah depan, berharap menemukan sebuah jalan yang mengarah ke desa terutama ke rumah Mac Brief. Tapi semakin jauh mereka berjalan yang mereka temukan hanyalah kumpulan pohon berdaun rindang yang berjejer di pinggir tempat mereka berjalan sementara suasana di sekitar mereka makin sunyi dan sepi.
"Nail.. Aku sudah tidak kuat nih kalau terus dipaksa jalan begini, kita kan sudah jauh sekali berjalan dari batas desa tapi kenapa sih belum sampai juga ke desa.?? Kalau begini terus aku bisa mati karena kecapean nih Nail, aduh capek nih." Keluh Tobi yang sudah mulai lelah.
"Sabar sedikit bisa tidak sih Tob.?! Jangan mengeluh terus seperti bayi begitu deh.!! Kita pasti bisa menemukan jalan untuk pulang ke desa terus ke rumah Mac Brief, tapi kalau kamu mengeluh terus seperti itu kita tidak akan pernah sampai dan tidak akan pernah tahu buku apa itu sebenarnya.. Jadi ayo semangat karena sebentar lagi kita pasti sampai ke desa dan bisa bertanya pada Mac Brief.!!" Kata Nail menyemangati Tobi.
Tobi pun sedikit demi sedikit mulai bersemangat lagi dan mau berjalan lagi menyusuri jalan setapak itu. Akhirnya tidak lama kemudian pemandangan di sekitar mereka mulai berubah dari semula banyak pohon kini mulai terlihat beberapa deretan rumah yang berjejer walaupun tidak terlalu banyak, Tobi dan Nail lalu saling memandang satu sama lain sambil terdiam, tetapi tidak lama kemudian mereka tersenyum dan berteriak dengan senang "Yeah.!! Kita berhasil, berhasil, berhasil, hore.!!" teriak mereka secara bersamaan dengan penuh rasa gembira.
Tanpa berpikir panjang lagi mereka berdua langsung berlari masuk ke dalam desa itu dengan perasaan senang. Tapi, setelah masuk ke dalam desa mereka berdua merasa ada yang aneh terjadi dengan desa mereka. Setelah berpikir cukup lama kira-kira beberapa deitk, akhirnya mereka memang benar-benar sadar kalau mereka sama sekali tidak mengenali sesuatu atau seseorang pun di sini.!! Mereka pun akhirnya bertanya-tanya di dalam hati, "Apa yang telah terjadi sebenarnya di desa ini.??".
"Nail apa yang sebenarnya terjadi ke desa kita.?? Desa Yami.!! Sebenarnya tempat apa sih ini.?? Kenapa kita tidak bisa mengenali satu orang pun di sini dan kita tidak bisa ingat dengan semua bangunan yang ada di sini.?? Padahal walaupun aku susah sekali untuk mengingat sesuatu, tapi aku tetap ingat kok beberapa orang dan semua bangunan yang ada di desa.. Tapi di sini aku tidak bisa ingat sama sekali Nail.!!" Tobi berkata dengan wajah pucat dan dengan nada ketakutan.
"Ah iya iya aku juga tahu Tob, aku juga tidak kenal satu orang pun di sini, tapi yang paling penting di sini adalah kita jangan cepat panik dulu lebih baik kita tanya dulu saja kepada seseorang, siapa tahu ada yang bisa memberi tahu kita tentang jawaban semua yang tengah terjadi ini." Nail mencoba tenang dan tidak bersikap panik seperti Tobi.
"Bagaimana bisa aku tidak merasa panik.?? Kita sedari tadi tersesat hampir berjam-jam di tengah hutan terus sekarang ada di tempat yang seharusnya itu desa tempat kita tinggal, bagaiman bisa tidak panik kalau begitu coba.??" Kata Tobi makin panik.
"Ternyata selain bodoh dan selalu ingin tahu kamu juga penakut dan gampang sekali panik ya Tob.?? Hahaha.!!" Kata Nail sambil tertawa melihat tingkah Tobi yang panik.
"Jangan tertawa di saat begini.!! Kenapa sih.?? Bukannya mencari tahu sesuatu tentang tempat ini malah menertawakan aku, tidak lucu tahu.!!" Kata Tobi sedikit marah karena ditertawakan oleh Nail.
"Ah iya maaf deh maaf Tobi, aku kan cuma bercanda, begitu saja marah.. Ayo deh kita cari tahu tentang tempat ini, kita tanya saja kepada seseorang." Kata Nail sambil minta maaf karena tadi sempat mentertawakan sahabatnya itu.
Setelah itu mereka bertanya kepada seseorang penduduk yang melintas di depan mereka.
"Maaf pak, apa benar di sini itu desa Yami (kegelapan).??" Tanya Nail.
"Ah maaf nak, sepertinya kalian sudah lama ya tidak pernah datang ke sini dan pasti orang tua kalian tidak pernah memberi tahu ya.??" Orang itu balik bertanya.
"Memangnya kenapa pak.??" Tanya Nail dan Tobi serempak.
"Ah itu, dulu di sini memang pernah ada suatu desa yang namanya desa Yami tapi sekitar 50 tahun lalu desa itu sudah tidak ada lagi dan berganti dengan desa ini, desa Kami (kertas), begitu nak." Jelas orang itu.
"Hah.?? Desa Kami.?? Sudah 50 tahun.?? Apa maksudnya dengan semua ini.?? Aku jadi semakin bingung." Teriak Tobi dan Nail keheranan.
"Nail.. Bagaimana nih.?? Aku jadi makin takut, kita tidak bisa pulang dan dalam situasi yang aneh begini.. Aku tidak mau begini terus-terusan Nail, aku mau pulang.!! Biar saja aku tidak tahu apa-apa tentang buku misterius The Future itu, yang penting sekarang aku mau pulang.. Kembali ke rumah.!!" Kata Tobi yang semakin panik saja.
"Ah.?? Itu dia jawabannya Tobi.!! Buku.!! Kau jenius sekali Tobi.!!" Kata Nail tiba-tiba dengan wajah senang.
"Apa maksudmu dengan jawaban dan buku.?? Tapi sebelumnya terima kasih.." Tobi bingung tapi dia senang karena Nail memujinya dan itu jarang sekali terjadi.
"Begini maksudku, pasti semua kejadian ini terkait dengan buku misterius itu dan itu berarti kita harus memecahkan misterinya kalau kita mau pulang. Satu hal lagi, kalau kita tidak bisa menemui Mac Brief di jaman ini -karena orang tadi bilang sudah 50 tahun berlalu-, pasti seseorang dari jaman sekarang pasti tahu mengenai buku ini.... Begitu Tobi.!!" Jelas Nail sambil tersenyum penuh harapan, sementara Tobi masih bingung dengan penjelasan Nail.
***
Di tempat lain di jaman yang sama
"Jadi buku itu sudah sampai ke jaman ini ya.??" Seseorang tersenyum dengan senyuman yang sangat licik dan raut wajah yang menakutkan.
"Benar sekali Boss, diperkirakan sekarang buku itu sudah berada di tempat asalnya di desa Kami atau bekas desa Yami." Jawab orang yang satu lagi yang sepertinya anak buah orang yang tadi.
"Bagus, kalau begitu sekarang cepat rebut buku itu dan serahkan padaku segera. Satu hal lagi, singkirkan semua orang yang berhubungan dengan buku itu, sekarang cepat kau pergi dan laksanakan tugas ini.!!" Perintah orang yang dipanggil Boss itu.
"Ba.. Baik Boss.!!" Dan sang anak buah pun langsung berangkat menuju tempat yang telah ditentukan.
"Pokoknya The Future itu harus menjadi milikku.. Hahaha.!!" Kata Boss sambil tertawa licik dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia memiliki rencana yang sangat jahat yang berhubungan dengan buku yang bernama The Future itu.
Rabu, 02 Juni 2010
The Future Part III: To The Future and Munculnya Seorang Misterius
The Future Part II: Tobi's Feeling
“Lho kalau terinjak memang rasanya sakit , ya kan?? Tapi kalau kau jatuh semua rasa sakitnya nanti pasti bisa hilang, cuma gantinya nyawamu juga bakalan melayang, bukannya itu juga kedengarannya cukup menyenangkan Nail.?? Hahahaha!!” Komentar Tobi sambil dengan puas menertawakan Nail yang kadang selalu menyebut dirinya bodoh, sedangkan Nail hanya bisa cemberut sambil tetap memperhatikan langkah kakinya tanpa bisa membalas komentar dari Tobi tersebut.
Perjalanan pun akhirnya berlanjut kembali setelah ada beberapa keributan dan kegaduhan yang dibuat oleh dua orang sahabat itu, jalan setapak yang tadi mereka lewati mengantarkan mereka ke batas masuk desa Yami Village, mereka pun berhenti dan langsung mencari tempat beristirahat sejenak untuk melepas lelah. “Ah ternyata capek juga menuruni bukit ya Nail, perasaan waktu kita berangkat kesana tidak terlalu capek begini.. Aneh banget sih.” Kata Tobi sambil bersandar si sebuah pohon yang cukup rindang yang berhasil dia temukan sebagai tempay beristirahat dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena capek, walaupun tidak sehabis berlari tetapi rasa capeknya terasa benar-benar sama.
“Dasar bodoh kamu itu Tobi!! Ya iya lah kita pasti bakalan merasa capek, kan waktu berangkat sih kita masih dalam keadaan yang segar bugar sementara kalau waktu pulangnya kita kan sudah capek jadi jelas lah kita jadi semakin capek.” Jelas Nail yang masih sedikit kesal pada Tobi sambil mengistirahatkan dirinya juga di pohon lain yang berada di sebelah pohon tempat Tobi beristirahat, sementara kini giliran Tobi yang menjadi cemberut karena Nail mengatainya bodoh lagi seperti biasanya.
“Huh!! Enak saja dia bisa bilang bilang begitu lagi padaku, padahal kan dia hanya sebatas mengantarkan aku ke rumah Mac Brief untuk menanyakan asal-usul buku aneh ini, dasar Nail juga aneh dan menyebalkan!!” Gerutu Tobi di dalam hatinya. Dia memang paling tidak suka ketika Nail menyebut dirinya bodoh, walaupun sebenarnya dia memang agak bodoh tetapi kadang dia juga merasa sudah biasa jika dipanggil seperti itu. Oleh karena itu dia hanya memasang muka cemberut melihat sahabatnya yang sedang beristirahat itu, dia pun berpikir untuk segera saja pergi ke rumah Mac Brief agar tidak begitu diliputi oleh rasa penasaran lagi dengan buku Aneh yang dia temukan bersama sahabatnya itu yang dia pikir menyebalkan.
Beberapa lama kemudian setelah selesai beristirahat mereka kembali melanjutkan perjalanan, Nail yang pertama bangkit dari istirahatnya kemudian disusul dengan Tobi. “Hei Tob!! Jangan cemberut terus dong dari tadi, kan jadinya aku merasa sedikit khawatir tentang sesuatu.” Kata Nail dengan memasang muka yang terlihat khawatir.
Tobi yang kelihatan bego itu pun tersipu malu dan merasa tersanjung karena dia pikir Nail sangat menyesal karena mengatainya bodoh dan sangat mengkhawatirkan dirinya karena dia menjadi cemberut. “Ah dia khawatir padaku juga ternyata, ternyata tidak salah dia memang sahabat yang paling baik.” Pikir Tobi melihat raut wajah Nail, perlahan-lahan raut mukanya kembali lagi menjadi ceria dan kemudian dia bertanya pada Nail, “Apa yang sebenarnya sedang kau khawatirkan Nail.?? Pasti kau sangat mengkhawatirkanku ya Nail?? Terima kasih sekali, aku jadi merasa terharu kalau kamu memang berpikiran begitu, hiks hiks hiks!!” Kata Tobi dengan wajah ceria namun sedikit terharu sambil menatap wajah Nail yang sekarang kelihatan seperti orang yang tengah bingung, lalu dia bertanya lagi pada sahabatnya itu, “Kenapa kau jadi seperti orang yang bingung begitu Nail??” Tanya Tobi lagi.
Nail lalu menghela napas panjang dan menjawab dengan wajah yang tenang, “Ah siapa juga yang khawatir padamu Tob?? Kamu ini memang selalu ada-ada saja ya, aku bukan sedang mengkhawatirkan tentang dirimu kok.” Jawab Nail sambil mengibaskan-ngibasakan telapak tangan kanannya di depan wajahnya sendiri.
“Ah terus kalau bukan khawatir tentangku, terus apa yang sedang kamu khawatirkan sebenarnya??” Tanya Tobi yang merasa bingung dengan jawaban dari sahabatnya itu yang ternyata sangat berbeda dengan apa yang tengah dia pikirkan.
“Hei Tobi, yang aku khawatirkan itu bukan tentang dirimu, kamu itu sepertinya terlalu percaya diri sekali Tobi!! Aku itu khawatir kalau melihat kamu cemberut terus, nanti aku bisa mual-mual terus nanti aku bisa muntah di tengah jalan. Makanya aku mau kamu berhenti cemberut karena wajahmu yang sedang cemberut itu menurutku.. Jelek sekali tahu!! Hahahaha!!” Nail tertawa terbahak-bahak dengan puas karena merasa telah membalas menertawakan Tobi dan dia juga puas karena telah berhasil membodohi Tobi lagi. Nail terus saja tertawa bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa amat sakit karena tidak bisa menahan tawa. Tobi hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah yang sangat kesal dan malu karena terlalu percaya dan telah dibodohi lagi oleh Nail.
Tobi yang kelihatan sangat kesal kemudian menegakkan kepalanya kembali dan menatap muka sahabatnya yang sedang menertawakannya itu dengan tajam. Wajah Tobi kelihatan lebih menakutkan dari biasanya karena dipengaruhi oleh perasaan kesal yang amat sangat. “Nail, awas ya kau.. Akan kubunuh kau sekarang juga!!” Teriak Tobi sambil berusaha menangkap Nail, tapi Nail yang telah sigap dari tadi lolos dari sergapan Tobi dengan sangat mudah, lalu ia pun berlari menghindar beberapa jauh dari tempat Tobi berdiri.
“Tangkap saja kalau kau bisa Tob!! Kau kan memang paling tidak bisa kalau bermain kejar-kejaran denganku.” Kata Nail menjulurkan lidahnya mengejek Tobi sambil berlari dan terus tertawa dengan wajah yang sangat senang, Tobi yang kesal pun akhirnya mengejar Nail dan berusaha menangkapnya dengan sekuat tenaga. “Ayo kejar aku Tobi bodoh!! Ayo kita main kejar-kejaran dulu sebentar biar tidak terlalu bosan semabri pergi ke rumah Mac Brief, Hahahaha!!” Ejek Nail lagi sambil tertawa-tawa.
“Awas kau ya kalau nanti tertangkap Nail!! Aku nanti pasti membunuhmu dan membuatmu diam dan tidak berbicara yang aneh-aneh lagi tentang diriku.” Teriak Tobi lagi dengan wajah yang sangat marah dan merah padam karena malu. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berkejar-kejaran di sepanjang jalan menuju rumah Mac Brief.
The Future Part I: The Beginning
Cerita ini dimulai dari sebuah desa kecil bernama Yami Village. Desa itu adalah sebuah desa yang terletak tidak jauh dari sebuah kota yang bernama Watch Town, kota yang cukup besar dan megah di kala itu. Kisah ini berawal ketika dua orang pemuda bernama Tobi dan Nail berjalan-jalan di sekitar bukit di desa itu, mereka memang suka bermain-main di sana dan hampir setiap hari mereka pergi ke bukit tersebut. Merka berjalan kesana-kemari dengan arah dan tujuan yang tidak terlalu jelas di bukit itu, sampai tidak beberapa lama kemudian mereka menemukan sebuah buku bersampul hitam yang misterius, yang membuat mereka bertanya-tanya.
"Hah.!? Kira-kira apa itu ya.?? Kelihatannya itu benda yang misterius sekali.??" Kata Tobi yang memang bersifat lebih bodoh dan lebih ceroboh dari temannya yang bernama Nail itu dengan nada yang menunjukkan bahwa dia sangat penasaran dengan benda tersebut.
Nail pun mengamati perilaku temannya itu dengan seksama dan tidak lama kemudian,"PLAK!!" Nail memukul kepala temannya itu dengan sangat keras. "Sudah sangat jelas kan Tob kalau itu adalah sebuah buku!! Tapi memang kelihatan mencurigakan sekali sih." Walaupun Nail mengejek Tobi karena kebodohannya tetapi dia pun kini ikut penasaran seperti Tobi.
"Aduh!! Ngasih tau sih ngasih tau Nail.!! Tapi jangan pukul kepalaku sampai sebegini kerasnya dong... Kan sakit nih jadinya kepalaku!!" Kata Tobi dengan perasaan yang cukup kesal sambil memegangi kepalanya yang masih sakit karena dipukul Nail tadi, diia memang suka merasa sedikit kesal jika Nail menyebutnya bodoh tapi kadang juga dia sudah merasa biasa jika Nail menyebut dirinya seperti itu.
"Iya deh kalau begitu aku minta maaf Tob, habisnya kamu kelihatan seperti orang bego sih, jadi lebih baik kupukul saja biarnantinya kamu tidak jadi bego beneran." Nail menjelaskan sambil meminta maaf atas perbuatannya kepada Tobi tadi itu.
"Ah dasar kamu itu ya Nail!!" Tobi menggerutu dengan wajah yang sedikit cemberut. "Tapi ya sudah lah Nail, yang penting bagaimana dengan buku ini?? Hmm.. Kalau dilihat baik-baik aku tahu kalau judulnya itu adalah The Future (TF)." Tobi memungut dan memperhatikan buku itu dengan seksama dengan membolak-balikkan buku itu beberapa kali di tangannya.
"Hei Tobi.!! Kita kan masih belum tahu apa-apa tentang buku itu!! Jadi Jangan sembarangan pegang buku itu dengan tanganmu karena kita kan belum tahu apa akibatnya jika menyentuh buku itu, dasar kau benar-benar ceroboh!!" Nail mengingatkan temannya yang ceroboh itu akan tindakan cerobohnya yang begitu gegabah itu.
Tapi Tobi seperti tidak mendengar peringatan temannya itu dan tidak menggubrisnya, dia kemudian malah membuka halaman pertama dari buku itu. Ketika membuka halaman pertama, Tobi hanya melihat judul dari buku itu tertulis kembali namun dengan warna tinta yang berbeda dengan covernya. Nail hanya bisa melihat sahabatnya itu membuka halaman demi halaman dari buku tersebut tanpa bisa mencegahnya atau berkata-kata agar Tobi berhenti melakukan aktifitasnya dengan buku tersebut.
Pada halaman kedua dari buku tersebut dan halaman seterusnya dari buku itu terdapat banyak sekali tulisan namun dalam bahasa yang sama sekali tidak dapat dipahami oleh Tobi maupun Nail. Selebihnya pada halaman selanjutnya buku itu kosong tanpa satu tulisan pun di dalamnya dan itu membuat mereka menjadi semakin bingung tentang buku apa itu sebenarnya.
"ah aku menyesal sudah memungut buku ini!! Aku kira isinya bakalan menarik seperti apa yang ada di cerita-cerita atau film-film yang pernah aku baca dan tonton... Eh ternyata isinya hanya ada tulisan tidak jelas dan halaman kosong begini, padahal waktu melihat covernya kukira isi di dalamnya bakalan sangat menarik.. Huh!!" Tobi menggerutu sambil memegangi buku itu dengan lemas.
Tiba-tiba Nail yang sedari tadi hanya diam saja dan melihat kemudian merebut buku itu dari tangan Tobi. "Sini biar aku lihat sebentar!! Siapa tahu matamu itu ada yang salah." Seru Nail sambil membuka buku itu halaman demi halaman sambil mengamatinya dengan seksama, dan akhirnya dia menemukan sesuatu yang cukup menarik. "Owh, Apa ini.." Kata Nail sambil memperhatikan sesuatu yang ada di buku dengan sangat serius.
"Ada apa sih Nail?? Coba biar kulihat!!" Tobi yang tadi lemas tiba-tiba kembali bersemangat ketika mendengar sahabatnya berbicara seperti menemukan sesuatu yang menarik di dalam buku misterius itu, dia merasa penasaran dengan apa yang dilihat oleh temannya itu.
"Eits!! Sabar dulu dong Tob, kamu jangan langsung main sambar seperti itu." Nail menepis tangan Tobi yang penasaran dan ingin mengambil buku itu lagi dari tangannya. "Aku hanya menemukan tulisan mengkin bisa disebut sebagai kata-kata tapi aku tidak tahu juga karena hanya ada dua huruf dan tintanya menurutku agak sedikit aneh, agak basah dan sedikit berbau." Jelas Nail pada Tobi, namun belum sempat Nail menyelesaikan kata-katanya, Tobi sudah merenggut buku itu kembali dari tangannya dan langsung terburu-buru membukanya.
"Eeeeeh..!?" Seru Tobi sambil megernyitkan dahinya. "Tadi waktu kulihat pertama kali aku tidak menemukan sesuatu apapun dan tidak ada hal yang seperti ini!! Terus memang apa artinya dua huruf yang ada di halaman ini, M dan L??" Kata Tobi sambil menatap halaman buku tersebut dengan kebingungan.
Nail memperhatikan lagi kedua huruf itu, Nail memang orang yang sangat suka dengan hal yang berbau teka-teki seperti ini makanya dia kelihatan sangat serius dengan kedua huruf tersebut, dia nampak ingin sekali memcahkan kedua huruf yang terlihat seperti sebuiah kode itu."Mungkinkah itu inisial dari nama seseorang atau nama tempat??" Kata Nail mengira-ngira dengan gayanya yang mirip sekali dengan seorang detektif.
"Mungkin juga Nail, kamu memang pintar!! Tapi masalahnya ini nama tampat dimana atau nama siapa?? Yang lebih penting lagi dari semua itu adalah darimana tulisan ini berasal?? Karena tadi waktu kulihat pertama kali tulisan ini belum ada." Kata Tobi yang semakin bingung saja walaupun sudah mendapat sedikit jawaban dari Nail tentang arti kedua huruf itu.
"Aku juga tidak begitu tahu tentang hal itu." Kata Nail yang kini ikut-ikutan bingung seperti sahbatnya yang selalu penasaran itu."Ah lebih baik kita bawa buku itu dulu dan pergi ke rumah Mac Brief, dia kan orang yang paling pintar dan berpengalaman di desa, mungkin dia tahu sesuatu tentang buku ini." Ujar Nail mengajukan usul. Perlu diketahui bahwa Mac Brief adalah salah satu tetua di desa Tobi dan Nail yang sangat pintar dan dikenal dapat memecahkan berbagai masalah yang ada di desa, dan dia juga merupakan sahabat dari Tobi dan Nail.
"Boleh juga kiranya usulmu Nail, kalau begitu ayo kita segera berangkat ke rumah Mac Brief fan jagan tunda-tunda waktu lagi!! Aku juga rasanya jadi makin penasaran dengan buku misterius ini, mungkin isinya memang benar-benar menarik dan bisa membawa kita berpetualang seperti impian kita selama ini!!" Kata Tobi bersemangat dan menyetujui usul Nail.
"Ya Tobi, aku juga berharap kalau buku ini bisa memberikan petualangan bagi kita, tapi setidaknya kita juga sudah memulai petualangan dengan buku misterius ini, kalau begitu ayo kita mulai saja petualangan awal ke rumah Mac Brief bersama-sama.!!" Sambut Nail yang juga sangat bersemangat untuk memulai petualangan mereka. Akhirnya sepasang sahabat itu pun turun dari bukit dan menuju rumah Mac Brief yang berada di tengah desa.
