Di tengah perjalanan menuju rumah Mac Brief yang cukep panjang dan berliku, Nail yang memiliki kemampuan berpikir yang lebih nampaknya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh yang telah terjadi dengan mereka sekarang.
"Tob, apa benar ya jalan ke rumah Mac Brief ke arah sini.?? Kurasa sepertinya kita tersesat karena perasaanku mengatakan bahwa aku belum pernah lewat sini." kata Nail khawatir.
"Ah yang bener kamu Nail.?? Kita sudah jauh-jauh kesini hanya untuk tersesat.!? Terus bagaimana kalau begitu sekarang.?? Padahal kukira kamu itu hapal betul jalannya dengan baik." Kata Tobi dengan sangat kecewa karena kata-kata Nail barusan.
Memang sepanjang jalan yang mereka lewati tadi adalah hutan yang sangat lebat sepanjang batas desa, tapi setelah jauh berjalan mereka tidak juga menemukan jalan setapak yang arahnya menuju ke desa.Akhirnya merekapun menjadi khawatir kalau ternyata mereka tersesat dan berada lebih jauh lagi dari desa.
"Ah bagaimana ini Nail.?? Kita tersesat gara-gara kamu yang tidak hapal jalan dengan begitu baik, kamu selalu bilang aku bodoh tapi kenyataannya kamu sendiri tidak bisa mengingat jalan pulang ke desa, bagaimana sih.??" Tobi menggerutu dengan wajah kesal tapi tetap saja kelihatan bodoh.
"Jangan menyalahkan aku juga sepenuhnya dong Tob.!! Lagipula aku baru sekali saja membuat kesalahan, tidak sepertimu kamu yang sudah berkali-kali membuat kesalahan gara-gara kebodohan dan rasa penasaranmu yang terlalu besar itu.!! Huh dasar bisanya menyalahkan orang melulu." Kata Nail yang juga ikut-ikutan kesal.
Akhirnya mereka pun berjalan terus ke arah depan, berharap menemukan sebuah jalan yang mengarah ke desa terutama ke rumah Mac Brief. Tapi semakin jauh mereka berjalan yang mereka temukan hanyalah kumpulan pohon berdaun rindang yang berjejer di pinggir tempat mereka berjalan sementara suasana di sekitar mereka makin sunyi dan sepi.
"Nail.. Aku sudah tidak kuat nih kalau terus dipaksa jalan begini, kita kan sudah jauh sekali berjalan dari batas desa tapi kenapa sih belum sampai juga ke desa.?? Kalau begini terus aku bisa mati karena kecapean nih Nail, aduh capek nih." Keluh Tobi yang sudah mulai lelah.
"Sabar sedikit bisa tidak sih Tob.?! Jangan mengeluh terus seperti bayi begitu deh.!! Kita pasti bisa menemukan jalan untuk pulang ke desa terus ke rumah Mac Brief, tapi kalau kamu mengeluh terus seperti itu kita tidak akan pernah sampai dan tidak akan pernah tahu buku apa itu sebenarnya.. Jadi ayo semangat karena sebentar lagi kita pasti sampai ke desa dan bisa bertanya pada Mac Brief.!!" Kata Nail menyemangati Tobi.
Tobi pun sedikit demi sedikit mulai bersemangat lagi dan mau berjalan lagi menyusuri jalan setapak itu. Akhirnya tidak lama kemudian pemandangan di sekitar mereka mulai berubah dari semula banyak pohon kini mulai terlihat beberapa deretan rumah yang berjejer walaupun tidak terlalu banyak, Tobi dan Nail lalu saling memandang satu sama lain sambil terdiam, tetapi tidak lama kemudian mereka tersenyum dan berteriak dengan senang "Yeah.!! Kita berhasil, berhasil, berhasil, hore.!!" teriak mereka secara bersamaan dengan penuh rasa gembira.
Tanpa berpikir panjang lagi mereka berdua langsung berlari masuk ke dalam desa itu dengan perasaan senang. Tapi, setelah masuk ke dalam desa mereka berdua merasa ada yang aneh terjadi dengan desa mereka. Setelah berpikir cukup lama kira-kira beberapa deitk, akhirnya mereka memang benar-benar sadar kalau mereka sama sekali tidak mengenali sesuatu atau seseorang pun di sini.!! Mereka pun akhirnya bertanya-tanya di dalam hati, "Apa yang telah terjadi sebenarnya di desa ini.??".
"Nail apa yang sebenarnya terjadi ke desa kita.?? Desa Yami.!! Sebenarnya tempat apa sih ini.?? Kenapa kita tidak bisa mengenali satu orang pun di sini dan kita tidak bisa ingat dengan semua bangunan yang ada di sini.?? Padahal walaupun aku susah sekali untuk mengingat sesuatu, tapi aku tetap ingat kok beberapa orang dan semua bangunan yang ada di desa.. Tapi di sini aku tidak bisa ingat sama sekali Nail.!!" Tobi berkata dengan wajah pucat dan dengan nada ketakutan.
"Ah iya iya aku juga tahu Tob, aku juga tidak kenal satu orang pun di sini, tapi yang paling penting di sini adalah kita jangan cepat panik dulu lebih baik kita tanya dulu saja kepada seseorang, siapa tahu ada yang bisa memberi tahu kita tentang jawaban semua yang tengah terjadi ini." Nail mencoba tenang dan tidak bersikap panik seperti Tobi.
"Bagaimana bisa aku tidak merasa panik.?? Kita sedari tadi tersesat hampir berjam-jam di tengah hutan terus sekarang ada di tempat yang seharusnya itu desa tempat kita tinggal, bagaiman bisa tidak panik kalau begitu coba.??" Kata Tobi makin panik.
"Ternyata selain bodoh dan selalu ingin tahu kamu juga penakut dan gampang sekali panik ya Tob.?? Hahaha.!!" Kata Nail sambil tertawa melihat tingkah Tobi yang panik.
"Jangan tertawa di saat begini.!! Kenapa sih.?? Bukannya mencari tahu sesuatu tentang tempat ini malah menertawakan aku, tidak lucu tahu.!!" Kata Tobi sedikit marah karena ditertawakan oleh Nail.
"Ah iya maaf deh maaf Tobi, aku kan cuma bercanda, begitu saja marah.. Ayo deh kita cari tahu tentang tempat ini, kita tanya saja kepada seseorang." Kata Nail sambil minta maaf karena tadi sempat mentertawakan sahabatnya itu.
Setelah itu mereka bertanya kepada seseorang penduduk yang melintas di depan mereka.
"Maaf pak, apa benar di sini itu desa Yami (kegelapan).??" Tanya Nail.
"Ah maaf nak, sepertinya kalian sudah lama ya tidak pernah datang ke sini dan pasti orang tua kalian tidak pernah memberi tahu ya.??" Orang itu balik bertanya.
"Memangnya kenapa pak.??" Tanya Nail dan Tobi serempak.
"Ah itu, dulu di sini memang pernah ada suatu desa yang namanya desa Yami tapi sekitar 50 tahun lalu desa itu sudah tidak ada lagi dan berganti dengan desa ini, desa Kami (kertas), begitu nak." Jelas orang itu.
"Hah.?? Desa Kami.?? Sudah 50 tahun.?? Apa maksudnya dengan semua ini.?? Aku jadi semakin bingung." Teriak Tobi dan Nail keheranan.
"Nail.. Bagaimana nih.?? Aku jadi makin takut, kita tidak bisa pulang dan dalam situasi yang aneh begini.. Aku tidak mau begini terus-terusan Nail, aku mau pulang.!! Biar saja aku tidak tahu apa-apa tentang buku misterius The Future itu, yang penting sekarang aku mau pulang.. Kembali ke rumah.!!" Kata Tobi yang semakin panik saja.
"Ah.?? Itu dia jawabannya Tobi.!! Buku.!! Kau jenius sekali Tobi.!!" Kata Nail tiba-tiba dengan wajah senang.
"Apa maksudmu dengan jawaban dan buku.?? Tapi sebelumnya terima kasih.." Tobi bingung tapi dia senang karena Nail memujinya dan itu jarang sekali terjadi.
"Begini maksudku, pasti semua kejadian ini terkait dengan buku misterius itu dan itu berarti kita harus memecahkan misterinya kalau kita mau pulang. Satu hal lagi, kalau kita tidak bisa menemui Mac Brief di jaman ini -karena orang tadi bilang sudah 50 tahun berlalu-, pasti seseorang dari jaman sekarang pasti tahu mengenai buku ini.... Begitu Tobi.!!" Jelas Nail sambil tersenyum penuh harapan, sementara Tobi masih bingung dengan penjelasan Nail.
***
Di tempat lain di jaman yang sama
"Jadi buku itu sudah sampai ke jaman ini ya.??" Seseorang tersenyum dengan senyuman yang sangat licik dan raut wajah yang menakutkan.
"Benar sekali Boss, diperkirakan sekarang buku itu sudah berada di tempat asalnya di desa Kami atau bekas desa Yami." Jawab orang yang satu lagi yang sepertinya anak buah orang yang tadi.
"Bagus, kalau begitu sekarang cepat rebut buku itu dan serahkan padaku segera. Satu hal lagi, singkirkan semua orang yang berhubungan dengan buku itu, sekarang cepat kau pergi dan laksanakan tugas ini.!!" Perintah orang yang dipanggil Boss itu.
"Ba.. Baik Boss.!!" Dan sang anak buah pun langsung berangkat menuju tempat yang telah ditentukan.
"Pokoknya The Future itu harus menjadi milikku.. Hahaha.!!" Kata Boss sambil tertawa licik dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia memiliki rencana yang sangat jahat yang berhubungan dengan buku yang bernama The Future itu.
Rabu, 02 Juni 2010
The Future Part III: To The Future and Munculnya Seorang Misterius
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar