Perjalanan ke rumah Mac Brief pun dimulai, sepasang sahabat itu menyusuri jalan setapak yang tidak terlalu lebar untuk menuruni bukit tersebut. Mereka berjalan sangat pelan dan hati-hati agar tidak sampai terjatuh karena memang jarak dari situ sampai ke bawah memang cukup tinggi ditambah lagi dengan keadaan tempat itu yang cukup curam, sehingga memaksa siapapun tidak akan sampai mau terjatuh dari situ. “Tob, kamu hati-hati sedikit dong kalau berjalan.!! Bisa-bisa kalau kamu seperti itu terus, kakiku nanti bisa terinjak lalu nanti aku akan jatuh ke bawah. Kalau nanti ada apa-apa denganku, apa kamu mau bertanggung jawab??” Bentak Nail sambil memperingatkan Tobi yang lagi-lagi telah berbuat kecerobohan di hadapannya.
“Lho kalau terinjak memang rasanya sakit , ya kan?? Tapi kalau kau jatuh semua rasa sakitnya nanti pasti bisa hilang, cuma gantinya nyawamu juga bakalan melayang, bukannya itu juga kedengarannya cukup menyenangkan Nail.?? Hahahaha!!” Komentar Tobi sambil dengan puas menertawakan Nail yang kadang selalu menyebut dirinya bodoh, sedangkan Nail hanya bisa cemberut sambil tetap memperhatikan langkah kakinya tanpa bisa membalas komentar dari Tobi tersebut.
Perjalanan pun akhirnya berlanjut kembali setelah ada beberapa keributan dan kegaduhan yang dibuat oleh dua orang sahabat itu, jalan setapak yang tadi mereka lewati mengantarkan mereka ke batas masuk desa Yami Village, mereka pun berhenti dan langsung mencari tempat beristirahat sejenak untuk melepas lelah. “Ah ternyata capek juga menuruni bukit ya Nail, perasaan waktu kita berangkat kesana tidak terlalu capek begini.. Aneh banget sih.” Kata Tobi sambil bersandar si sebuah pohon yang cukup rindang yang berhasil dia temukan sebagai tempay beristirahat dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena capek, walaupun tidak sehabis berlari tetapi rasa capeknya terasa benar-benar sama.
“Dasar bodoh kamu itu Tobi!! Ya iya lah kita pasti bakalan merasa capek, kan waktu berangkat sih kita masih dalam keadaan yang segar bugar sementara kalau waktu pulangnya kita kan sudah capek jadi jelas lah kita jadi semakin capek.” Jelas Nail yang masih sedikit kesal pada Tobi sambil mengistirahatkan dirinya juga di pohon lain yang berada di sebelah pohon tempat Tobi beristirahat, sementara kini giliran Tobi yang menjadi cemberut karena Nail mengatainya bodoh lagi seperti biasanya.
“Huh!! Enak saja dia bisa bilang bilang begitu lagi padaku, padahal kan dia hanya sebatas mengantarkan aku ke rumah Mac Brief untuk menanyakan asal-usul buku aneh ini, dasar Nail juga aneh dan menyebalkan!!” Gerutu Tobi di dalam hatinya. Dia memang paling tidak suka ketika Nail menyebut dirinya bodoh, walaupun sebenarnya dia memang agak bodoh tetapi kadang dia juga merasa sudah biasa jika dipanggil seperti itu. Oleh karena itu dia hanya memasang muka cemberut melihat sahabatnya yang sedang beristirahat itu, dia pun berpikir untuk segera saja pergi ke rumah Mac Brief agar tidak begitu diliputi oleh rasa penasaran lagi dengan buku Aneh yang dia temukan bersama sahabatnya itu yang dia pikir menyebalkan.
Beberapa lama kemudian setelah selesai beristirahat mereka kembali melanjutkan perjalanan, Nail yang pertama bangkit dari istirahatnya kemudian disusul dengan Tobi. “Hei Tob!! Jangan cemberut terus dong dari tadi, kan jadinya aku merasa sedikit khawatir tentang sesuatu.” Kata Nail dengan memasang muka yang terlihat khawatir.
Tobi yang kelihatan bego itu pun tersipu malu dan merasa tersanjung karena dia pikir Nail sangat menyesal karena mengatainya bodoh dan sangat mengkhawatirkan dirinya karena dia menjadi cemberut. “Ah dia khawatir padaku juga ternyata, ternyata tidak salah dia memang sahabat yang paling baik.” Pikir Tobi melihat raut wajah Nail, perlahan-lahan raut mukanya kembali lagi menjadi ceria dan kemudian dia bertanya pada Nail, “Apa yang sebenarnya sedang kau khawatirkan Nail.?? Pasti kau sangat mengkhawatirkanku ya Nail?? Terima kasih sekali, aku jadi merasa terharu kalau kamu memang berpikiran begitu, hiks hiks hiks!!” Kata Tobi dengan wajah ceria namun sedikit terharu sambil menatap wajah Nail yang sekarang kelihatan seperti orang yang tengah bingung, lalu dia bertanya lagi pada sahabatnya itu, “Kenapa kau jadi seperti orang yang bingung begitu Nail??” Tanya Tobi lagi.
Nail lalu menghela napas panjang dan menjawab dengan wajah yang tenang, “Ah siapa juga yang khawatir padamu Tob?? Kamu ini memang selalu ada-ada saja ya, aku bukan sedang mengkhawatirkan tentang dirimu kok.” Jawab Nail sambil mengibaskan-ngibasakan telapak tangan kanannya di depan wajahnya sendiri.
“Ah terus kalau bukan khawatir tentangku, terus apa yang sedang kamu khawatirkan sebenarnya??” Tanya Tobi yang merasa bingung dengan jawaban dari sahabatnya itu yang ternyata sangat berbeda dengan apa yang tengah dia pikirkan.
“Hei Tobi, yang aku khawatirkan itu bukan tentang dirimu, kamu itu sepertinya terlalu percaya diri sekali Tobi!! Aku itu khawatir kalau melihat kamu cemberut terus, nanti aku bisa mual-mual terus nanti aku bisa muntah di tengah jalan. Makanya aku mau kamu berhenti cemberut karena wajahmu yang sedang cemberut itu menurutku.. Jelek sekali tahu!! Hahahaha!!” Nail tertawa terbahak-bahak dengan puas karena merasa telah membalas menertawakan Tobi dan dia juga puas karena telah berhasil membodohi Tobi lagi. Nail terus saja tertawa bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa amat sakit karena tidak bisa menahan tawa. Tobi hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah yang sangat kesal dan malu karena terlalu percaya dan telah dibodohi lagi oleh Nail.
Tobi yang kelihatan sangat kesal kemudian menegakkan kepalanya kembali dan menatap muka sahabatnya yang sedang menertawakannya itu dengan tajam. Wajah Tobi kelihatan lebih menakutkan dari biasanya karena dipengaruhi oleh perasaan kesal yang amat sangat. “Nail, awas ya kau.. Akan kubunuh kau sekarang juga!!” Teriak Tobi sambil berusaha menangkap Nail, tapi Nail yang telah sigap dari tadi lolos dari sergapan Tobi dengan sangat mudah, lalu ia pun berlari menghindar beberapa jauh dari tempat Tobi berdiri.
“Tangkap saja kalau kau bisa Tob!! Kau kan memang paling tidak bisa kalau bermain kejar-kejaran denganku.” Kata Nail menjulurkan lidahnya mengejek Tobi sambil berlari dan terus tertawa dengan wajah yang sangat senang, Tobi yang kesal pun akhirnya mengejar Nail dan berusaha menangkapnya dengan sekuat tenaga. “Ayo kejar aku Tobi bodoh!! Ayo kita main kejar-kejaran dulu sebentar biar tidak terlalu bosan semabri pergi ke rumah Mac Brief, Hahahaha!!” Ejek Nail lagi sambil tertawa-tawa.
“Awas kau ya kalau nanti tertangkap Nail!! Aku nanti pasti membunuhmu dan membuatmu diam dan tidak berbicara yang aneh-aneh lagi tentang diriku.” Teriak Tobi lagi dengan wajah yang sangat marah dan merah padam karena malu. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berkejar-kejaran di sepanjang jalan menuju rumah Mac Brief.
“Lho kalau terinjak memang rasanya sakit , ya kan?? Tapi kalau kau jatuh semua rasa sakitnya nanti pasti bisa hilang, cuma gantinya nyawamu juga bakalan melayang, bukannya itu juga kedengarannya cukup menyenangkan Nail.?? Hahahaha!!” Komentar Tobi sambil dengan puas menertawakan Nail yang kadang selalu menyebut dirinya bodoh, sedangkan Nail hanya bisa cemberut sambil tetap memperhatikan langkah kakinya tanpa bisa membalas komentar dari Tobi tersebut.
Perjalanan pun akhirnya berlanjut kembali setelah ada beberapa keributan dan kegaduhan yang dibuat oleh dua orang sahabat itu, jalan setapak yang tadi mereka lewati mengantarkan mereka ke batas masuk desa Yami Village, mereka pun berhenti dan langsung mencari tempat beristirahat sejenak untuk melepas lelah. “Ah ternyata capek juga menuruni bukit ya Nail, perasaan waktu kita berangkat kesana tidak terlalu capek begini.. Aneh banget sih.” Kata Tobi sambil bersandar si sebuah pohon yang cukup rindang yang berhasil dia temukan sebagai tempay beristirahat dan mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena capek, walaupun tidak sehabis berlari tetapi rasa capeknya terasa benar-benar sama.
“Dasar bodoh kamu itu Tobi!! Ya iya lah kita pasti bakalan merasa capek, kan waktu berangkat sih kita masih dalam keadaan yang segar bugar sementara kalau waktu pulangnya kita kan sudah capek jadi jelas lah kita jadi semakin capek.” Jelas Nail yang masih sedikit kesal pada Tobi sambil mengistirahatkan dirinya juga di pohon lain yang berada di sebelah pohon tempat Tobi beristirahat, sementara kini giliran Tobi yang menjadi cemberut karena Nail mengatainya bodoh lagi seperti biasanya.
“Huh!! Enak saja dia bisa bilang bilang begitu lagi padaku, padahal kan dia hanya sebatas mengantarkan aku ke rumah Mac Brief untuk menanyakan asal-usul buku aneh ini, dasar Nail juga aneh dan menyebalkan!!” Gerutu Tobi di dalam hatinya. Dia memang paling tidak suka ketika Nail menyebut dirinya bodoh, walaupun sebenarnya dia memang agak bodoh tetapi kadang dia juga merasa sudah biasa jika dipanggil seperti itu. Oleh karena itu dia hanya memasang muka cemberut melihat sahabatnya yang sedang beristirahat itu, dia pun berpikir untuk segera saja pergi ke rumah Mac Brief agar tidak begitu diliputi oleh rasa penasaran lagi dengan buku Aneh yang dia temukan bersama sahabatnya itu yang dia pikir menyebalkan.
Beberapa lama kemudian setelah selesai beristirahat mereka kembali melanjutkan perjalanan, Nail yang pertama bangkit dari istirahatnya kemudian disusul dengan Tobi. “Hei Tob!! Jangan cemberut terus dong dari tadi, kan jadinya aku merasa sedikit khawatir tentang sesuatu.” Kata Nail dengan memasang muka yang terlihat khawatir.
Tobi yang kelihatan bego itu pun tersipu malu dan merasa tersanjung karena dia pikir Nail sangat menyesal karena mengatainya bodoh dan sangat mengkhawatirkan dirinya karena dia menjadi cemberut. “Ah dia khawatir padaku juga ternyata, ternyata tidak salah dia memang sahabat yang paling baik.” Pikir Tobi melihat raut wajah Nail, perlahan-lahan raut mukanya kembali lagi menjadi ceria dan kemudian dia bertanya pada Nail, “Apa yang sebenarnya sedang kau khawatirkan Nail.?? Pasti kau sangat mengkhawatirkanku ya Nail?? Terima kasih sekali, aku jadi merasa terharu kalau kamu memang berpikiran begitu, hiks hiks hiks!!” Kata Tobi dengan wajah ceria namun sedikit terharu sambil menatap wajah Nail yang sekarang kelihatan seperti orang yang tengah bingung, lalu dia bertanya lagi pada sahabatnya itu, “Kenapa kau jadi seperti orang yang bingung begitu Nail??” Tanya Tobi lagi.
Nail lalu menghela napas panjang dan menjawab dengan wajah yang tenang, “Ah siapa juga yang khawatir padamu Tob?? Kamu ini memang selalu ada-ada saja ya, aku bukan sedang mengkhawatirkan tentang dirimu kok.” Jawab Nail sambil mengibaskan-ngibasakan telapak tangan kanannya di depan wajahnya sendiri.
“Ah terus kalau bukan khawatir tentangku, terus apa yang sedang kamu khawatirkan sebenarnya??” Tanya Tobi yang merasa bingung dengan jawaban dari sahabatnya itu yang ternyata sangat berbeda dengan apa yang tengah dia pikirkan.
“Hei Tobi, yang aku khawatirkan itu bukan tentang dirimu, kamu itu sepertinya terlalu percaya diri sekali Tobi!! Aku itu khawatir kalau melihat kamu cemberut terus, nanti aku bisa mual-mual terus nanti aku bisa muntah di tengah jalan. Makanya aku mau kamu berhenti cemberut karena wajahmu yang sedang cemberut itu menurutku.. Jelek sekali tahu!! Hahahaha!!” Nail tertawa terbahak-bahak dengan puas karena merasa telah membalas menertawakan Tobi dan dia juga puas karena telah berhasil membodohi Tobi lagi. Nail terus saja tertawa bahkan sampai memegangi perutnya yang terasa amat sakit karena tidak bisa menahan tawa. Tobi hanya bisa menundukkan kepalanya dengan wajah yang sangat kesal dan malu karena terlalu percaya dan telah dibodohi lagi oleh Nail.
Tobi yang kelihatan sangat kesal kemudian menegakkan kepalanya kembali dan menatap muka sahabatnya yang sedang menertawakannya itu dengan tajam. Wajah Tobi kelihatan lebih menakutkan dari biasanya karena dipengaruhi oleh perasaan kesal yang amat sangat. “Nail, awas ya kau.. Akan kubunuh kau sekarang juga!!” Teriak Tobi sambil berusaha menangkap Nail, tapi Nail yang telah sigap dari tadi lolos dari sergapan Tobi dengan sangat mudah, lalu ia pun berlari menghindar beberapa jauh dari tempat Tobi berdiri.
“Tangkap saja kalau kau bisa Tob!! Kau kan memang paling tidak bisa kalau bermain kejar-kejaran denganku.” Kata Nail menjulurkan lidahnya mengejek Tobi sambil berlari dan terus tertawa dengan wajah yang sangat senang, Tobi yang kesal pun akhirnya mengejar Nail dan berusaha menangkapnya dengan sekuat tenaga. “Ayo kejar aku Tobi bodoh!! Ayo kita main kejar-kejaran dulu sebentar biar tidak terlalu bosan semabri pergi ke rumah Mac Brief, Hahahaha!!” Ejek Nail lagi sambil tertawa-tawa.
“Awas kau ya kalau nanti tertangkap Nail!! Aku nanti pasti membunuhmu dan membuatmu diam dan tidak berbicara yang aneh-aneh lagi tentang diriku.” Teriak Tobi lagi dengan wajah yang sangat marah dan merah padam karena malu. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan berkejar-kejaran di sepanjang jalan menuju rumah Mac Brief.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar